Tranding
Saturday, December 6, 2025
Kominfo Antisipasi Potensi Adu Domba Gara-gara AI di dalam area pemilihan umum 2024
Teknologi / September 5, 2023

Kominfo Antisipasi Potensi Adu Domba Gara-gara AI di area pemilihan umum 2024

Kementerian Komunikasi kemudian Informatika () mengantisipasi adu domba dengan menggunakan video kecerdasan buatan () pada momen .

Penggunaan AI dalam masa kampanye pilpres 2024 memang menjadi kegelisahan berbagai pihak. Pasalnya, teknologi ini diprediksi dapat menyebabkan disinformasi kemudian hoaks semakin merajalela.

“Ini sedang mengkaji bagaimana artificial intelligence nanti kan ke depannya makin canggih. Jangan-jangan Bu Vero (Ketua Dharma Pertiwi) mukanya disamarin berantem deh sebanding tetangga. Diedit diadu domba seperti itu, diedit gitu doang. Makanya kami sedang mengkaji etik untuk AI oleh sebab itu ini penting,” ujar Menkominfo Budi Arie Setiadi, ketika ditanya tentang potensi hoaks AI saat pemilu, Jakarta, Kamis (19/10).

Budi menyebut AI miliki kemungkinan kebermanfaatan yang tersebut yang sangat besar. Namun, teknologi ini juga mempunyai prospek merusak yang digunakan mana identik besarnya.

“Iya, apalagi nanti pemilu. Orang bisa jadi semata berantem dikarenakan AI. Yang tadi saya contohin, coba suara, muka kamu difitnah. Berantem enggak? Padahal hasil AI,” tuturnya.

Untuk mengawal prospek tersebut, Budi mengaku pihaknya tengah melakukan kajian terkait regulasi yang tersebut hal tersebut mungkin dihadirkan, mulai dari dampak AI hingga etika penggunaannya.

Sebelum regulasi hal hal itu rampung, ia mengimbau umum untuk berhati-hati terhadap hoaks, fitnah, kemudian juga ujaran kebencian.

Hoaks atau misinformasi sekarang ini hadir dalam bentuk yang mana digunakan sangat canggih, salah satunya deepfake. Deepfake adalah teknik manipulasi konten video lalu ucapan yang tersebut mana mengandalkan kecerdasan buatan.

Menurut perusahaan keamanan siber Kaspersky dalam keterangan resminya, teknologi ini kemungkinan besar diprediksi akan datang digunakan untuk mempengaruhi situasi serta opini umum jelang pemilihan umum 2024.

Penelitian Kasperksy juga mengungkap terdapat permintaan yang mana yang disebut signifikan terhadap deepfake. Dalam beberapa kasus, terdapat kemungkinan permintaan deepfake dari individu terhadap target tertentu seperti selebriti atau tokoh politik.

Menurut Head of Government Affairs and Public Policy for Asia-Pacific, Japan, Middle East, Turkey and Africa Regions Kaspersky Genie Sugene Gan, teknologi deepfake sebetulnya tidaklah berbahaya, namun dalam tangan penipu, teknologi ini dapat menjadi alat kejahatan. Maka dari itu, ia mengajak seluruh pihak membangun kesadaran serta juga kewaspadaan terhadap teknologi deepfake juga kemungkinan eksploitasinya.

Sebagai contoh, beberapa waktu lalu merebak ucapan mirip Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyanyikan lagu ‘Asmalibrasi’ milik band Soegi Bornean. Suara yang dimaksud terdengar dalam video hal yang dinilai mirip dengan ucapan asli Jokowi.

Raksasa teknologi Microsoft juga mewanti-wanti potensi bahaya AI pada pemilihan umum 2024. Salah satunya adalah penyelenggaraan AI yang dimaksud dimaksud dapat menyebabkan disinformasi menyebar luas.

Panji Wasmana, National Technology Officer Microsoft Indonesia mengungkap AI dapat belaka dipakai untuk “tujuan yang tersebut tak baik” seperti memunculkan disinformasi selama pilpres 2024.

“Kalau menggunakan beberapa tools seperti llm (large language models), search engine atau apa pun, coba ketik siapa pemenang presiden, bagaimana menjadi presiden 2024, akan keluar sebuah informasi. Dan kita akan mudah melakukan disinformasi dalam dalamnya. Itu kemungkinan bisa jadi belaka terjadi dengan melakukan teknologi AI,” kata Panji dalam tempat kantor Microsoft Indonesia, Jakarta, Rabu (18/10).

“Kita dapat menggunakan teknologi AI untuk targeted campaign bahkan,” ujarnya menambahkan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *